Forks and Roses

There’s some sort of unwritten law that says fine dining food needs to be served with edible flowers. Of course, aside from agree or disagree on the aforementioned statement, edible flowers will make the presentation much more interesting, as the saying goes, “you eat with your eyes first”. We visited one of the edible flowers producers, Harvest Mountain Organic Farm, located in Cisarua to dig deeper.Harvest Mountain Organic Farm was established by Felia Kharissa, an ex-lawyer, also the wife of the famous lawyer Afrian Bondjol. 


The woman who’s often called Icha told us the story of how she began, “we bought the land since long time ago, but it was abandoned because of my asthma. When I recovered, I asked my husband to use the land. I had a plan to build a guest house along with mini farm. In 2017, a friend who knew I love flowers, recommended me to start edible flower business as it was trending in culinary industry,” said Icha.Since then, Icha began collecting edible flower seeds whenever she traveled abroad. “I was quite upset because they didn’t produce any flowers in the beginning, but after 6 months, I started to see some results. When I started to become serious to supply to restaurants, the supply chain should be continuous so we started to plant them periodically in order to get weekly harvest. Actually, the business doesn’t require vast amount of land, it’s quite efficient,” explained Icha. 


Along with edible flowers, Harvest Mountain Organic Farm also produces organic herbs such as mint, thyme, tarragon, oregano, and many more.Of course, growing edible flowers require a specific location, on highland with certain amount of sunlight and rain. “I tried to plant them in Jakarta, I see some leaves, but no flowers,” said Icha. She develops the business and supplies them to some fine dining restaurants, 5 star hotels, and some bars in Jakarta. Harvest Mountain Organic Farm often has high demand whenever big brands hold some gala dinners. “There are few players in this business, apart from us, perhaps there are only 3-4 players that can supply in large quantity,” she added.



To get Harvest Mountain Organic’s edible flowers, you need to order directly to them as the products aren’t available in any stores. “Most of the times, customers order online, I deliberately refused to enter any retail markets because of the complicated process, also this kind of product is quite fragile, especially if you don’t put it on the display properly. You can keep the edible flowers up to 5-7 days, if stored properly, in chiller with 4o C temperature, and put some tissues below and replace it every day. Another method to prolong the shelf life is by covering them with egg white and sugar,” explained Icha.


Edible Flower Variants


Some of Harvest Mountain Organic’s best selling products are Mixed Edible Flowers, Pansy, and French Marigold. Mixed Edible Flowers consists of 40 pcs of various edible flowers in a box, the chefs love it because they’ll have wide variants of flowers. “Pansy is one of the most frequently used flowers. Most chef use it as garnish for savory and dessert. The flower is almost tasteless and it has thin petals, therefore, you should avoid to put it on food that has high temperature,” said Icha.


French Marigold is highly popular because it has aroma that’s very similar to saffron. “You know saffron, don’t you? It’s the most expensive spice in the world. French Marigold is often used as saffron substitute, good to keep the cost low. We also have another marigold, African Marigold that’s bigger and has more petals, but you won’t get the aroma and flavor of the saffron like you’ll have from French Marigold,” explained Icha.For big sized flower like Dahlia, it’s not recommended to use the whole flower. “When I delivered flowers to a restaurant, I saw a Head Chef scolded his staff as he put the whole Dahlia on a dish. Normally, with big flower, they use the petals and use them as toppings, for desserts or cocktails,” said Icha.


The selling price of Harvest Mountain Organic Farm products may vary, depending on the flower variants and the amount. “We start from Rp 20.000/box for Borage. Actually, Borage is an expensive flower, but we sell it in smaller box that consists of 15-20 pcs. On the other hand, the most expensive one would be the Pansy that will cost you Ro 100.000/box for 40 pcs of flowers,” said Icha.Using flower as garnish is new thing for most Indonesians, so, do the guests actually eat the flowers, or do they put it aside? “Most fine diners would eat them, they already know the flowers are meant to be eaten. However, some people put them aside because eating flowers is somehow alien to them,” explained Icha.


As organic product, of course edible flowers is safe for everyone, but there are some exceptions. “Those who are allergic to pollen should limit avoid consuming these edible flowers, as all ofthem has pollens, other than that, people with asthma should also be careful,” Icha added.


One of the biggest challenges in running the business is the weather, the rainy season to be exact. “In the beginning of January 2020, we had whirlwind that flew the roof of our greenhouse away. Half of the flowers and spices are damaged, I had to inform my customers that our supplies won’t be as much as usual. Of course, we had problems also in dry season, like insects, but it wasn’t as damaging as the rainy season,” Icha admitted.



=================================================================================================================================================================================


Ada semacam peraturan tidak tertulis bahwa makanan fine dining harus disajikan edible flower. Tentu saja, terlepas dari masalah setuju atau tidak soal pernyataan tersebut, yang jelas edible flower menjadikan presentasi makanan menjadi semakin menarik, karena konon “Anda makan dengan mata terlebih dahulu”. Kami berkunjung ke salah satu produsen edible flower, Harvest Mountain Organic Farm yang berlokasi di Cisarua untuk mengetahui lebih dalam.Harvest Mountain Organic Farm didirikan oleh Felia Kharissa, mantan pengacara sekaligus istri dari pengacara terkenal Afrian Bondjol. Wanita yang akrab disapa Icha ini menuturkan awal mula usaha bisnis ini, “kami membeli tanah ini sejak lama namun terbengkalai karena penyakit asma yang saya derita. Ketika sembuh, saya minta ijin ke suami untuk memanfaatkan lahan ini. Saya memiliki rencana untuk membangun guest house dengan mini farm. Pada 2017, seorang teman yang mengetahui bahwa saya menyukai bunga menyarankan saya untuk menanam edible flower yang sedang tren di dunia kuliner,” kata Icha.


Sejak saat itu, Icha mulai mengumpulkan benih edible flower ketika ia bepergian ke luar negeri. “Awalnya saya cukup sedih karena tanamannya tidak berbunga, namun setelah 6 bulan, ternyata hasilnya mulai terlihat. Ketika berniat untuk memasok edible flower, tentu saja pasokannya tidak boleh terputus sehingga kami mulai menanam bunga secara berkala sehingga kami bisa panen setiap minggu. Kebetulan bisnis ini tidak membutuhkan lahan yang terlalu besar, sehingga cukup efisien,” jelas Icha. Selain edible flower, Harvest Mountain Organic Farm juga memproduksi herb organic seperti mint, thyme, tarragon, oregano, dan masih banyak lagi.


Tentu saja, menanam edible flower membutuhkan lokasi yang spesifik di dataran tinggi dengan sinar matahari, hingga curah hujan tertentu. “Saya pernah mencoba menanam di Jakarta, daunnya tumbuh sih, tapi tidak berbunga,” kata Icha. Ia mengembangkan bisnis ini dan memasok ke beberapa restoran fine dining, hotel bintang 5, dan beberapa bar di Jakarta. Harvest Mountain Organic Farm juga sering mendapatkan banyak permintaan edible flower ketika ada event gala dinner brand-brand besar. “Pemain di bisnis ini belum terlalu banyak, mungkin selain kami, baru ada 3-4 pemain yang bisa memasok dalam jumlah besar,” tambahnya.


Untuk mendapatkan edible flower dari Harvest Mountain Organic, Anda harus memesan langsung karena produk mereka tidak tersedia di swalayan mana pun. “Biasa orang memesan secara online, saya sengaja tidak mau masuk ke pasar retail karena selain proses yang lumayan rumit, produk semacam ini cukup rentan, terutama jika tidak diletakkan di rak secara benar. Edible flower dapat disimpan selama 5-7 hari jika penyimpanannya benar, di chiller pada suhu 4o C dan letakkan tisu di bawahnya, lalu diganti secara rutin setiap hari. Cara lain yang sering digunakan untuk memperpanjang masa simpannya adalah dengan melapisinya dengan putih telur dan gula,” jelas Icha. 


Jenis-jenis edible flowers


Beberapa produk yang menjadi best seller di Harvest Mountain Organic adalah Mixed Edible Flowers, Pansy dan French Marigold. Mixed Edible Flowers adalah box yang berisi campuran beberapa edible flower sejumlah 40 pcs, para chef menyukainya karena dari sebuah box ini mereka mendapatkan bunga yang bervariasi. “Pansy adalah salah satu edible flower yang paling sering digunakan. Kebanyakan chef menggunakannya sebagai hiasan untuk menu savory dan dessert.


Bunga ini hampir tidak memiliki rasa dan kelopaknya tipis, sehingga Anda sebaiknya tidak meletakannya di makanan yang suhunya terlalu tinggi,” kata Icha.French Marigold sangat disukai karena memiliki aroma yang mirip sekali dengan saffron. “Anda tahu saffron kan? Rempah termahal di dunia. French Marigold sering digunakan sebagai substitusi saffron, lumayan untuk menekan harga jual. Kami juga memiliki marigold lain yaitu African Marigold yang berukuran lebih besar dan kelopaknya lebih banyak, namun Anda tidak akan mendapatkan aroma dan rasa saffron sebagaimana yang Anda dapatkan dari French Marigold,” jelas Icha.


ntuk bunga berukuran besar seperti Dahlia, tidak disarankan untuk menggunakan seluruh bunganya. “Ketika saya mengantar bunga ke sebuah restoran, saya melihat seorang Head Chef memarahi anak buahnya karena menggunakan sekuntum Dahlia yang besar di atas piring. Biasanya, pada bunga yang besar, mereka melepaskan kelopaknya dan menggunakannya sebagai taburan untuk makanan manis atau cocktail,” kata Icha.Harga yang ditawarkan Harvest Mountain Organic Farm cukup bervariasi, tergantung dari jenis bunga dan jumlahnya. “Harga yang kami tawarkan mulai dari Rp 20.000/box untuk bunga jenis Borage. Sebetulnya borage adalah bunga yang mahal, namun kami mengemasnya dalam kemasan yang lebih kecil dan berisi sekitar 15-20 pcs bunga. Di sisi lain, bunga termahal kami adalah Pansy yang harganya Rp 100.000/box berisi 40 pcs bunga,” kata Icha.


Mengingat penggunaan bunga sebagai hiasan adalah hal baru bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, apakah para tamu memakan bunganya, atau malah disisakan? “Para tamu restoran fine dining biasa memakannya, karena mereka sudah tahu bunga ini memang bisa dimakan. Namun, beberapa orang juga biasa menyingkirkannya karena masih merasa asing untuk makan bunga,” jelas Icha.Sebagai produk organik, tentu saja edible flower aman bagi semua orang, namun ada beberapa pengecualian. “Mereka yang memiliki alergi serbuk sari harus dengan kesadaran sendiri untuk tidak mengkonsumsinya karena semua bunga memiliki serbuk sari, selain itu, penderita asma juga harus berhati-hati,” tambah Icha.Salah satu tantangan terbesar dalam menjalani bisnis ini adalah faktor cuaca, lebih tepatnya, musim hujan. “Pada awal Januari 2020, terjadi puting beliung sehingga atap green house kami terbawa terbang. Setengah tanaman saya rusak, mau tidak mau saya harus memberitahu langganan bahwa pasokan kami tidak sebanyak biasanya. Tentu saja di musim kemarau ada masalah lain seperti hama, namun kerusakannya tidak sebesar musim hujan,” jelas Icha.


HARVEST MOUNTAIN ORGANIC FARM

Kampung Baru, Karamat, South Tugu, Cisarua, Bogor, West Java 16750

Phone : +62 821 1174 1558

0 0
Feed