Ratna

Momen Tepat Usaha Teh

Sudah bukan rahasia umum bahwa minuman best selling di kebanyakan kedai kopi bukanlah minuman coffee-based, melainkan Iced Lychee Tea, atau Matcha Latte. Tanya saja teman Anda yang memiliki coffee shop! Fakta unik ini membuktikan bahwa jumlah non-coffee drinker di coffee shop ternyata masih banyak, dan teh masih menjadi pilihan utama bagi mereka. Ini yang menyebabkan banyak pemilik coffee shop mulai melirik teh untuk mengembangkan usaha mereka.


Di hampir semua seminar yang melibatkan teh, tidak afdol rasanya jika tidak melibatkan nama Ratna Somantri. Sebagai seorang lulusan Le Cordon Bleu, Sydney di bidang French Patisserie yang justru jatuh cinta pada dunia teh. Saat ini, ia dikenal sebagai founder Komunitas Pecinta Teh, Head of Promotion Indonesia Tea Board, penulis berbagai judul buku tentang teh. Singkat kata, Ratna Somantri adalah salah satu nama yang paling kerap muncul di benak orang ketika kita bicara soal teh.Pada webinar “Bisnis Minuman Kekinian” (4 Juli 2020) bagian kedua yang khusus membahas tentang teh, Ratna Somantri hadir sebagai narasumber bersama Galung Atri (Chairman AISTea, pengusaha teh) dan Cakra Virajati (Juara berbagai kompetisi teh di 2019). Seolah memahami bahwa banyak peserta webinar yang berasal dari kalangan pecinta kopi, Ratna banyak memperkenalkan teh dan membandingkannya dengan kopi dari berbagai sisi.

Teh VS Kopi


Demam coffee shop yang melanda Indonesia sejak 1 dekade terakhir ini ternyata juga sangat membantu industri teh, “Saya bertanya ke salah satu café sekaligus penyedia mesin dan peralatan kopi. Mereka memiliki data penjualan rata-rata coffee shop yang mereka supply, ternyata 30% penjualan di coffee shop dikuasai oleh minuman berbasis teh. Peningkatan ini dialami juga oleh beberapa pemilik merk teh yang penjualannya banyak sekali masuk ke dalam industri horeca dan lebih tepatnya, coffee shop,” jelas Ratna.


Salah satu hal paling menarik dari teh adalah, minuman ini bisa dinikmati oleh pelanggan dengan rentang usia yang sangat lebar, dari anak-anak hingga orang tua. “Anak saya yang berumur 2 tahun saja sudah saya ijinkan minum teh, meski, tentu saja jumlahnya saya batasi. Rasanya jarang sekali ada ibu yang berani memberi anaknya minum kopi kan? Mungkin ia takut anaknya tidak bisa tidur semalaman?” tanya Ratna.


Selain itu, dengan varian yang begitu banyak, teh bisa dinikmati di segala kesempatan, dari pagi hingga malam. “Rasanya saya belum pernah mendengar orang yang mengeluh karena terlalu banyak minum teh, sementara jika Anda minum kopi lebih dari 4 cangkir, kemungkinan besar jantung Anda akan berdebar-debar, dan Anda merasa tubuh Anda tidak nyaman. Selama Anda mengkonsumsi eh yang baik dan benar, seharusnya tidak masalah, seperti yang dilakukan oleh penduduk Jepang dan China, mereka baik-baik saja,” tambah Ratna.


Selalu ada teh untuk setiap situasi. “Pada saat sarapan contohnya, Anda butuh teh yang lebih kuat, setelah itu pada sore hari, mungkin Anda butuh teh yang menyegarkan, ketika cuaca sedang terik, And bisa minum teh, ketika Anda merasa tidak enak badan, Anda bisa minum teh herbal, pilihannya sangat banyak,” tegas Ratna. Jika kopi biasa digunakan sebagai booster ketika Anda sedang mengantuk, atau butuh energi ekstra, teh dapat menjangkau mood secara lebih luas.


Salah satu aplikasi teh yang sedang populer di industri kuliner saat ini adalah mencampurkan teh dengan bahan makanan. “Teh adalah bahan yang sangat versatile! Ketika dicampurkan dengan bahan-bahan lain, rasa teh tidak akan mendominasi rasa lain, sebagaimana yang terjadi jika Anda mencampur kopi,” kata Ratna.


Peluang Usaha Teh


Tren industri specialty seolah memaksa kita untuk percaya bahwa kopi specialty bisa dijual mahal, sehingga asumsinya, dengan harga jual yang relatif sama antara teh dan kopi, Anda akan mendapatkan margin yang lebih tinggi jika menjual kopi. “Banyak orang yang tidak menyadari jika harga teh (specialty) per kilonya lebih tinggi dari kopi. Meski demikian, jika secangkir espresso membutuhkan sekitar 10 gram kopi, untuk secangkir teh, Anda hanya membutuhkan 2 gram. Selain itu, setelah proses ekstraksi, kopi hanya akan menjadi ampas, sementara teh bisa diseduh berulang kali.


Pada teh berkualitas, seduhan pertama, kedua, ketiga bisa memberikan aroma yang berbeda-beda,” jelas Ratna.Dari segi investasi yang diperlukan, bisa jadi teh jauh lebih unggul. “Untuk menyeduh teh, Anda hanya membutuhkan daun teh, air, wadah untuk menyeduh seperti teko, dan tentunya pengetahuan mengenai teh dan cara penyajiannya. Kita bisa menyeduh teh dengan baik tanpa harus berinvestasi hingga ratusan juta untuk sebuah mesin espresso,” kata Ratna.Meski berhasil melumpuhkan berbagai bisnis di industri F&B, Ratna percaya bahwa pandemi ini justru merupakan momen tepat bagi Anda untuk memulai usaha teh. “Saat ini, semua orang ingin hidup lebih sehat, ditambah lagi dengan pandemi ini, orang semakin menyadari pentingnya hidup sehat. Sejak ribuan tahun lalu, teh dikenal memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Jadi, sebetulnya ini peluang yang sangat besar jika Anda ingin menggarapnya,” tegas Ratna. 


Tentu saja, Anda butuh nilai tambah untuk bisa berbisnis di bidang ini. Sebagaimana kita ketahui, teh merupakan minuman yang sangat umum bagi masyarakat Indonesia, sehingga, menurut Ratna, seringkali kita meminumnya sekadar untuk menghilangkan rasa haus. “2 tahun belakangan ini, orang menjual teh tidak hanya sekadar untuk diminum. Mereka menawarkan sebuah cerita dan tujuan, salah satunya bagi mereka yang ingin hidup lebih sehat,” tambahnya.Ada beberapa rute yang bisa ditempuh jika Anda berminat memulai bisnis di bidang teh: menjual teh kering atau menjual minuman ready to drink. Penjualan teh kering pun dibagi menjadi 2 lagi. “Ada pasar teh specialty (single origin) bagi mereka yang ingin meminum teh untuk mendapatkan aroma murni dari daun teh tersebut. 


Di sisi lain, Anda juga bisa menciptakan berbagai rasa baru dengan cara memadukan daun teh (camellia sinensis) dengan bahan kering lain (tisane), biasa ini dikenal dengan nama tea blending,” kata Ratna.Tisane bisa didefinisikan sebagai bagian dari tumbuhan (selain camellia sinensis) yang dikeringkan, lalu diseduh seperti teh. “Dari sini Anda bisa mengarahkan tea blending ini sesuai tujuan, apakah sebagai minuman lifestyle modern yang dipadukan dengan berbagai bunga kering seperti tren saat ini, atau lebih ke arah kesehatan, dengan cara memadukan daun teh dengan bahan herbal lainnya,” jelas Ratna.


Bisnis Teh untuk UMKM


Jika Anda ingin berbisnis di minuman ready to drink, Ratna menyarankan Anda untuk membuat premium bottled tea. “Hampir semua perusahaan retail besar memiliki brand teh botolannya sendiri, karena memang beberapa tahun terakhir ini, marketnya sangat menjanjikan. Jika Anda tahu, ada sebuah brand teh melati yang sukses menjalankan konsep kedai teh takeaway. Saya tidak usah sebut nama brandnya, namun, meski orang tidak melihat ini sebagai suatu bisnis yang keren, kedai tersebut hadir di banyak lokasi dan jika Anda hitung, total omsetnya tentu besar sekali,” katanya.Namun usaha minuman ready to drink berskala retail membutuhkan investasi yang jauh lebih besar.


“Premium bottled tea yang sifatnya homemade lebih berpeluang jika diproduksi oleh industri UMKM karena sifatnya yang lebih terbatas. Terlebih lagi jika Anda bisa menjualnya sambil melakukan creative tea mixology, Anda bisa menciptakan begitu banyak variasi minuman. Sebagai generasi milenial, tentu kita selalu ingin sesuatu yang berbeda dengan yang diminum orang tua kita,” jelas Ratna.Jika kalangan UMKM berminat untuk menjual teh kering, Ratna menyarankan untuk menjual teh dalam bentuk daun (loose leaf) saja. “Untuk produk tea bag, sepertinya kurang cocok untuk kalangan UMKM. Masalahnya, untuk dapat memproduksi tea bag sendiri, Anda membutuhkan kuantiti yang sangat besar.


  Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengemasnya ke dalam pyramid tea bag, namun tea bag jenis ini pun harganya cukup mahal. Bisa jadi harga pyramid tea bagnya lebih mahal daripada tehnya itu sendiri,” canda Ratna.Ada satu mitos yang mengatakan bahwa harga teh celup lebih murah jika dibandingkan harga teh loose leaf, dalam hal ini, Ratna tidak sependapat. Ia bahkan memberikan ilustrasi harga, “untuk teh celup skala industri, harga satuannya sekitar Rp 250, untuk grade yang lebih tinggi, harga per tea bag di kisaran Rp 1.600-2.000. Jika Anda menjual daun teh loose leaf berkualitas langsung dari perkebunan, modalnya hanya Rp 160. Jadi, Anda bisa mendapatkan teh dengan kualitas lebih tinggi, ditambah lagi dengan modal lebih murah, jika Anda tahu caranya,” jelas Ratna.Tentu saja, sebagai seorang teavangelist (penceramah teh), boleh jadi apa yang dikatakan Ratna adalah hal yang sifatnya subyektif. Di sisi lain, dengan akses Internet di tangan, Anda bisa dengan mudah mengecek kebenaran dari apa yang baru saja dikatan Ratna Somantri. Jika kata-katanya benar, bisa jadi Anda baru saja mendapatkan sebuah inspirasi untuk berbisnis di tengah masa sulit ini. Tidak ada salahnya mencoba kan?

0 0
Feed